Sabtu, 6 Des 2025
Nasional

PT. UMS Di Desa Gebangan Disoal Oleh LSM Koreksi Diduga Tak Sesuai Spek

(Foto: CV. UMS Di Desa Gebangan Disoal Oleh LSM Koreksi Diduga Tak Sesuai Spek. Red)
Situbondo | Aspirasijurnalis.com – Siapa yang tidak senang ketika pembangunan infrastruktur jalan, dari jalan Propinsi, Kabupaten/Kecamatan bahkan Desa/Dusun di setiap sudutnya sedang dikerjakan. Karena hal ini berdampak kepada pertumbuhan ekonomi bilamana infrastruktur berjalan adanya.
Tetapi hal ini masih menyisakan pertanyaan bilamana pekerjaan tersebut hanya dikerjakan asal asalan demi meraup keuntungan ratusan juta rupiah. Dugaan kuat itu muncul lantaran dengan mengurangi volume ketebalan indikasi kecurangan pada proyek hotmix yang dikerjakan oleh PT. Universal Mediterian Sejahtera yang dianggarkan melalui APBD Tahun 2025 dengan pagu anggaran Rp. 634.700.549,99,- dengan volume 820 meter melalui Dinas Bina Marga DPUPP Kabupaten Situbondo.
Indikasi kecurangan pada kegiatan Proyek Jalan Hotmix itu sendiri mulai terhendus lantaran Pekerjaannya dikerjakan 2 kali tidak sekaligus, dikarenakan kekurangan DT (Dump Truk) Isi Hotmix dan dilanjutkan pada malam hari Kamis, (20/10/2025). Dan juga pantauan Team Investigasi yang tergabung dalam aliansi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) DPC Koreksi Kabupaten Situbondo ini menemukan beberapa temuan saat di lokasi.
Salah satunya pekerjaan tersebut secara kasat mata sudah terlihat, kalau untuk ketebalan saat hamparan dari hasil fisik pekerjaan yang ada, timbunan aspalnya sangat tipis tidak sesuai ekspektasi yang diperkirakan tidak sampai 5 cm saat di gelar atau dihampar saat gembur. Sehingga ketika digilas saat pemadatan aspal diperkirakan hanya 2 cm bahkan kurang dari 2 cm.
Munihwar Ketua DPC LSM Koreksi Situbondo menyampaikan, “Dugaan ini muncul bahwasannya berpotensi dapat merugikan keuangan negara dengan dugaan kuat mengurangi volume ketebalan yang direalisasikan”.
Sontak saja informasi yang dihimpun seluruhnya ada 17 DT saat gelar yang pertama dan 6 DT saat gelar yang kedua dengan total 23 DT, hal ini kan sudah menjadi umum berapa harga per ton hotmix kalau dikalikan.
Selain itu untuk K3 (Kesehatan dan keselamatan Kerja) bagi pekerja tidak memadai karena analisis resikonya sangat tinggi untuk pekerjaan hotmix aspal, saat penyemprotan tidak memakai masker alat pelindung diri serta kaos tangan. Walaupun sudah memakai baju K3.
Munihwar menambahkan, “Maka, untuk memberikan kepastian dan masyarakat bisa merasakan infrastruktur jalan yang baik serta berkwalitas Team Arjuna / LSM Koreksi akan mengadukan secara resmi ke dinas terkait bahkan kepada APH bilamana tidak perbaikan dari pihak rekanan atau kontraktor”.
Hal ini berdasarkan untuk mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam melaksanakan fungsi pengawasan pencegahan, pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP RI) Nomor 43 tahun 2018.
Apalagi Mas Rio sudah menyampaikan kalau proyek yang ada di Kabupaten Situbondo sudah mulai banyak dikerjakan. Mari diawasi bersama-sama agar kualitas dari pekerjaan tersebut berkualitas dan awet serta bilamana kontraktor harus mengerjakan dbatas kewajaran bila ingin untung antara 10-15 persen.
Kemudian dari hasil investigasi di lokasi pengerjaan proyek tersebut dapat terlihat bahwa tingkat ketebalan hotmix pada jalan itupun berada di tingkat 1,5-3 cm saat padat dan juga kwalitas hotmix kasar AC/WC.
Sementara itu, saat ingin konfirmasi kepada kontraktor atau pelaksana proyek tersebut yakni CV. UMS belum dapat ditemui dilokasi dan juga pengawas untuk dikonfirmasi dalam pemberitaan lebih lanjut tidak dapat memberikan tanggapan hingga berita ini ditayangkan. (Tim/Red)


Baca Juga